Pengangguran
Kehilangan
Pekerjaan, Porelahan Pekerjaan dan
Tingkat Pengangguran Alamiah
Pengangguran
masih menjadi masalah makro ekonomi yang sangat berat. Apa yang menjadi
penyebab terjadinya pengangguran? Mengapa pengangguran selalu terjadi?
Pengangguran atau Tuna Karya
Adalah
istilah untuk orang yang berusia angkatan kerja dari usia 17-25 tahun yang
tidak bekerja sama sekali, sedang mencari kerja, bekerja kurang dari dua hari
selama seminggu, atau seseorang yang sedang berusaha mendapatkan pekerjaan yang
layak. Pengangguran juga mempengaruhi manusia secara langsung karena
mengakibatkan penurunan standar kehidupan, tekanan psikologis terhadap yang
mengalami kehilangan pekerjaan yang disebabkan karena jumlah angkatan kerja atau para kerja
tidak sebanding dengan jumlah lapangan kerja yang ada yang mampu menyerapnya.
Kehilangan Pekerjaan
Dapat
menjadi peristiwa ekonomi paling sulit dalam hidup seseorang. Kebanyakan orang
mengandalkan mata pencaharian mereka untuk mempertahankan standar hidup. Mereka
tidak hanya memperoleh penghasilan dari pekerjaan mereka, tetapi juga semacam
pencapaian pribadi. Kehilangan pekerjaan berarti penurunan standar hidup pada
masa kini, kekhawatiran pada masa depan, dan kehilangan harga diri. Oleh karena
itu, tidak mengherankan jika para politisi banyak berbicara tentang bagaimana
kebijakan yang mereka usulkan akan membantu dalam menciptakan lapangan kerja
pada kampanye mereka.
Pengangguran Karena
Memilih Pekerjaan (Search
Unemployment)
Adanya pengangguran
karena memilih pekerjaan menunjukkan bahwa perbedaan antara pengangguran suka
rela dengan pengangguran terpaksa tidaklah sejelas yang dirumuskan semula.
Dalam kenyataannya, para pekerja mempunyai preferensi serta kemampuan yang
berbeda, dan pekerjaan memiliki karakteristik yang berbeda. Sementara itu, arus
informasi tentang calon karyawan dan lowongan kerja tidak sempurna, serta
mobilitas geografis pekerja tidak instan. Untuk semua alasan ini, mencari
pekerjaan yang tepat membutuhkan waktu serta usha dan ini cenderung mengurangi
tingkat prolehan kerja. Tentu saja, karena pekerjaan yang berbeda membutuhkan
keahlian yang berbeda dan memberikan upah juga yang berbeda, maka para
pengangguran mungkin tidak menerima pekerjaan yang pertama kali
ditawarkan.
Apa
sebenarnya yang bersifat “alamiah” dari tingkat pengangguran alamiah
Friedman dan Phelps menggunakan kata
sifat untuk menggambarkan tingkat
pengangguran alamiah yang dipandang sebagai tingkat pengangguran yang
mempengaruhi gravitasi perekonomian dalam jangka panjang, dengan adanya ketidaksempurnaan
pasar tenaga kerja yang menyulitkan pekerjaan dari proses perolehan pekerjaan.
Pengangguran Alamiah ini bersifat “alamiah”
bukan berarti bersifat baik, melainkan “alamiah” karena tidak tersentuh oleh
kekuatan pasar yang dipegang oleh serikat pekerja atau tingkat pengangguran, tetapi
hanya akan mengarah pada inflasi yang lebih lagi.
Sebab-sebab
alamiah
Terjadi adanya pengangguran struktural.
Dengan adanya pertumbuhan, maka kombinasi input yang dibutuhkan akan berubah
sesuai dengan perubahan permintaan barang jadi. Perubahan ini memerlukan
penyesuaian ekonomi yang tepat. Perubahan yang mengikuti pertumbuhan ekonomi
menggeser struktur permintaan tenaga kerja.
Sebagai contoh, anggaplah bahwa suatu serikat
pekerja yang baru dibentuk menggunakan kekuatan pasar untuk menaikkan upah riil
bagi beberapa pekerja diatas tingkat keseimbangan. Hasilnya adalah penawaran
kerja yang jumlahnya berlebih sehingga tingkat pengangguran alamiah lebih tinggi. Adapun contoh lain
yaitu permintaan tenaga kerja dengan keterampilan tertentu meningkat, seperti
rekayasa elektronik dan pemrograman komputer, dan turun untuk tenaga kerja
dengan keterampilan lain seperti stenografi dan pembukuan.
Persamaan dasar
yang membangun model dinamika angkatan kerja yang menunjukkan hal-hal dan
faktor-faktor penentu tingkat pengangguran alamiah. Notasi L menunjukkan
angkatan kerja. E jumlah orang yang bekerja, dan U jumlah pengangguran. Karena
setiap orang dalam usia bekerja bervariasi antara bekerja atau menganggur, maka
angkatan kerja adalah jumlah orang yang bekerja dan menganggur.
L
= E + Uo
Dalam
notasi ini, tingkat pengangguran adalah U/L
Dari
persamaan sebelumnya, E = L – U, yaitu jumlah orang yang bekerja sama dengan
angkatan kerja dikurangi jumlah pengangguran. Jika kita mensubsitusi (L-U)
untuk E dalam kondisi mapan, kitaa peroleh :
f
U = s (L-U)
Untuk
mendapatkan tingkat pengangguran, maka kedua sisi persamaan dibagi L untuk
mendapatkan
F
U/L = s (I-U/L)
Mencari U/L :
U/L
= s/ (s+f)
Persamaan ini juga dapat ditulis dengan
U/L
= 1/ (1+f/s)
Model
tingkatan pengangguran alamiah memiliki implikasi yang jelas tetapi penting bagi
kebijakan publik. Semua kebijakan yang
bertujuan menurunkan tingkat pengangguran alamiah akan menurunkan tingkat
pemutusan kerja atau meningkatkan tingkat perolehan pekerjaan. Demikian pula,
semua kebijakan yang mempengaruhi tingkat pemutusan kerja atau perolehan
pekerjaan akan mengubah tingkat pengangguran alamiah. Karena memakan waktu bagi para pekerja untuk mencari pekerjaan
yang sesuai dengan keahlian dan selera individu mereka, maka timbulah
pengangguran friksional (Frictional
Unemployment). Berbagai kebijakan pemerintahan, seperti asuransi
pengangguran mengubah jumlah pengangguran friksional.
Pengangguran Friksional
Pengangguran
Friksional adalah pengangguran yang sifatnya sementara dan terjadi karena
adanya kesenjangan antara pencari kerja dengan lowongan kerja. Kesenjangan ini
berupa kesenjangan waktu, informasi dan kondisi geografis / jarak antara
pelamar kerja dengan pembuka lamaran pekerjaan. Para penganggur ini tidak ada
pekerjaan bukan karena tidak dapat memperoleh kerja , tetapi karena sedang
mencari pekerjaan lain yang lebih baik. Mereka yang masuk dalam kategori
pengangguran sementara umumnya rela menganggur (voluntary unemployment) untuk
mendapat pekerjaan.
Pengangguran
friksional umumnya ditimbulkan oleh perubahan permintaan tenaga kerja antara
perusahaan-perusahaan yang berbeda. Misalnya, jika konsumen lebih menyukai
komputer Acer daripada Dell, jumlah pekerja Acer meningkat, dan Dell melakukan
PHK. Mantan karyawan Dell sekarang harus mencari pekerjaan baru, dan Acer harus
memutuskan pekerja-pekerja mana yang akan direkrut untuk mengisi posisi yang
kini tersedia. Akibat dari transisi ini adalah pengangguran temporer.
Begitu
juga, karena setiap wilayah dalam satu negara memproduksi barang yang berbeda,
maka ketika posisi baru terbuka disuatu wilayah, wilayah-wilayah lain
kemungkinan akan mengalami pengangguran. Pertimbangkan, misalnya apa yang
terjadi jika harga minyak dunia jatuh. Produsen-produsen minyak dunia di Texas bereaksi
terhadap penurunan harga teersebut dengan mengurangi produksi dan memotong
lapangan pekerjaan. Pada saat yang sama, penurunan harga bensin merangsang
penjualan mobil, sehingga produsen-produsen mobil di Michigan menaikkan
produksi dan menambah pekerja. Perubahan komposisi permintaan antar industri
atau wilayah dinamakan dengan pergeseran sektoral (sectoral shift). Karena
pekerja memerlukan waktu untuk menemukan pekerjaan di sektor-sektor yang baru,
maka pergeseran sektoral menyebabkan pengangguran temporer.
1. Memberikan informasi tentang lowongan kerja secara cepat dan tepat melalui media cetak dan media elektronik
2. Mengadakan bursa kerja
3. Mendirikan institusi pencarian kerja
4. Menggalakkan pengembangan sektor informal, seperti home industri
5. Pembukaan proyek-proyek umum oleh pemerintah, seperti pembangunan jembatan, jalan raya, PLTU, PLTA, dll.
Pengangguran Friksional Tidak Dapat Dihindari
Apabila dalam suatu periode tertentu perekonomian terus menerus mengalami perkembangan yang pesat, jumlah dan tingkat pengangguran akan menjadi semakin rendah. Pada akhirnya perekonomian dapat mencapai tingkat penggunaan tenaga kerja penuh (full employment), yaitu apabila pengangguran tidak melebhi 4%. Pengangguran ini dinamakan pengangguran friksional (frictional unemployment). Segolongan ahli ekonomi menggunakan istilah pengangguran normal atau pengangguran mencari (search unemployment).
Apabila dalam suatu periode tertentu perekonomian terus menerus mengalami perkembangan yang pesat, jumlah dan tingkat pengangguran akan menjadi semakin rendah. Pada akhirnya perekonomian dapat mencapai tingkat penggunaan tenaga kerja penuh (full employment), yaitu apabila pengangguran tidak melebhi 4%. Pengangguran ini dinamakan pengangguran friksional (frictional unemployment). Segolongan ahli ekonomi menggunakan istilah pengangguran normal atau pengangguran mencari (search unemployment).
Kekakuan
Upah-Rill dan Pengangguran Struktural
Alasan
kedua adanya penggangguran adalah kekakuan upah (wage rigidity) gagalnya upah
melakukan penyesuaian sampai penawaran
tenaga kerja sama dengan permintaan.
Pengangguran yang disebabkan oleh kekakuan upah dan penjatahan pekerjaan
disebut pengangguran struktural (structural unemployment). Para pekerja tidak
dipekerjakn bukan karena mereka aktif mencari pekerjaan yang paling cocok
dengan keahlian mereka, tetapi karena ada ketidak cocokan mendasar antara
jumlah pekerjaan yang menginginkan pekerjaan dan jumla pekerjaan yang tersedia.
Undang-undang
upah minimum
Ketika
pemerintah mempertahankan upah agar tidak mecapai tingkat ekuilibrium , hal itu
dapat menimbulkan kekakuan upah. Undang-undang upah-minimum menetapkan tingkat
upah minimal ang harus di bayar perusahaan pada karyanya. Sejak dikluarkannya
undang-undang standar kerja yang adil tahun 1938(fair labor standards act of
1938), pemerintah federal AS memaksakan upah- minumum yang biasanya berada diantara
30 sampai 50 persen dari upah rata-rata dalam industri manufaktur.
Para
ekonom percaya bahwa upah minimum memiliki dampak terbesar terhadap
pengangguran usia muda. Upah ekuilibrium
para pekerja usia muda cenderung rendah karena dua alasan. Pertama,
karena para pekerja usia muda termasuk anggota angkatan kerja yang kurang
terdidik dan kurang berpengalaman , mereka cenderung memiliki produktivitas
marjinal yang rendah. Kedua, para pemuda
seringkali mengambil sebagian ‘’kompensasi’’ mereka dalam bentuk on-the-job
training ketimbang bayaran langsung. Magang adalah contoh pelatihan klasik yang
diberikan sebagai pengganti upah. Untuk kedua alasan ini , upah yang
menyeimbangkan penawaran pekerja usia
muda dengan permintaannya rendah .
Serikat
Pekerja dan Posisi Tawar-Menawar Kolektif
Penyebab
dari kekakuan upah yang kedua adalah
kekuatan monopoli serikat pekerja. Di Amerika Serikat , hanya 28 persen
dari pekerja yang upahnya ditentukan oleh tawar-menawar. Di sebagian besar
negara Eropa, serikat pekerja memainkan peranan yang lebih besar. Upah para
pekerja yang tergabung dalam serikat pekerja tidak ditentukan oleh ekuilibrium
penawaran dan permintaan, tetapi oleh
posisi tawar-menawar kolektif antara
pimpinan serikat pekerja dan
manajemen perusahaan . sering kali
kesepakatan akhir meningkatkan upah di
atas tingkat ekuilibrium dan memungkinkan perusahaan untuk memutuskan berapa
banyak pekerja yang perlu diterima. Hasilnya adalah penurunan jumlah pekerja
yang dipekerjakan, tingkat perolehan kerja yang lebih rendah , dan kenaikan
pengangguran struktural.
Pengangguran
yang disebabkan oleh serikat pekerja dan ancaman pembentukan serikat pekerja
(unionization) merupakan sebuah contoh konflik antara kelompok kerja yang
berbeda orang dalam (insiders) daan orang luar (outsiders). Kedua kelompok ini
cenderung memiliki kepentingan yang bertentangan. Dampak dari setiap proses
tawar-menawar terhadap upah dan kesempatan kerja sangat tergantung pada
pengaruh relatif dari masing-masing kelompok. Konflik antara orang dalam dan
orang luar dipecahkan secara berbeda diberbagai negara. Di beberapa
negara, seperti di Amerika Serikat,
proses tawar-menawar upah terjadi pada tingkat perusahaan atau pabrik. Di
negara-negara lain, seperti Swedia, proses tawar-menawar upah terjadi pada
tingkat nasional dengan pemerintah yang sering memainkan peran penting.
Upah
Efisiensi
1. Teori
upah-efisiensi (efficiency-wage) mengajukan penyebab ketiga dari kekakuan upah
selain undang-undang upah minimum dan pembentukan serikat pekerja. Teori ini
menyatakan bahwa upah yang tinggi membuat para pekerja lebih produktif. Pengaruh upah terhadap efisien pekerja dapat
menjelaskan kegagalan perusahaan untuk memangkas upah meskipun terjadi
kelebihan penawaran tenaga kerja.
2. Teori
upah-efisiensi yang kedua, yang lebih relevan bagi negara-negara maju,
menyatakan bahwa upah yang tinggi menurunkan perputaran tenaga kerja. Para pekerja keluar dari pekerjaannya karena
berbagai alasan untuk menerima posisi
yang lebih baik diperusahaan lain, mengubah karier, atau pindah ke wilayah
lain.
3. Teori
upah-efisiensi ketiga menyatakan bahwa kualitas rata-rata dari tenaga kerja
perusahaan tergantung pada upah yang dibayar pada karyawannya. Jika perusahaan
mengurangi upahnya, maka pekerja terbaik bisa mengambil pekerjaan ditempat
lain, meninggalkan perusahaan dengan para pekerja tidak terdidik yang memiliki
lebih sedikit alternatif.
4. Teori
upah-efisiensi keempat menyatakan bahwa upah yang tinggi meningkatkan upaya pekerja. Teori ini
menegaskan bahwa perusahaan tidak dapat memantau dengan sempurna upaya para
pekerja, dan para pekerja harus memutuskan sendiri sejauh mana mereka akan
bekerja keras.
Meskipun
keempat teori upah-efisiensi ini secara
rinci berbeda, namun teori-teori tersebut menyuarakan topik yang sama: karena perusahaan
beroperasi lebih efisien jika memayar pekerjaan dengan upah yang tinggi, maka
perusahaan dapat menganggap bahwa mempertahankan upah di atas tingkat yang
menyeimbangkan penawaran dan permintaan adalah menguntungkan . Hasil dari upah
yang lebih tinggi daripada upah ekuilibrium ini adalah tingkat perolehan kerja
yang lebih rendah dan pengangguran yang lebih besar.
Pengalaman pada Pasar Tenaga Kerja AS
Dimulai dengan
menunjukkan bahwa tingkat pengangguran komdisi-mapan perekonomian bergantung
pada tingkat pemutusan hubungan kerja dan perolehan kerja. Lalu membahas dua
alasan mengapa perolehan kerja tidak bersifat instan : proses pencarian kerja
(yang menyebabkan pengangguran friksional) dan kekakuan upah (yang menyebabkan
pengangguran struktural). Kekakuan upah, pada gilirannya muncul dari
undang-undang upah minimum, pembentukan serikat kerja, dan upah efisiensi
1. Durasi Pengangguran
Data yang ada
menunjukkan bahwa masa menganggur adalah pendek, tetapi sebagian besar waktu
menganggur itu bisa dikaitkan dengan pengangguran jangka-panjang. Berdasarkan
data pada tahun 1974, ketika tingkat tingkat pengangguran adalah 5,6 persen.
Pada tahun itu, 60 persen dari masa menganggur berakhir dalam waktu satu bulan,
tetapi 69 persen dari minggu-minggu menganggur berlangsung selama dua bulan
atau lebih.
Bukti tentang
durasi pengangguran ini memiliki implikasi penting terhadap kebijakan publik.
Jika tujuannya adalah memperkecil tingkat pengangguran alamiah, maka kebijakan
harus ditujukan pada pengangguran jangka-panjang, karena mereka menunjukkan
jumlah pengangguran yang besar.
2. Variasi Tingkat
Pengangguran di Antara Kelompok-kelompok Demografis
Tingkat
pengangguran sangat bervariasi diantara kelompok-kelompok yang berbeda dalam
populasi. Untuk menjelaskan perbedaan ini, ingatlah model tingkat pengangguran
alamiah. Model itu menunjukkan dua penyebab kemungkinan timbulnya tingkat
pengangguran yang tinggi : tingkat perolehan kerja yang rendah dan tingkat
pemutusan hubungan kerja yang tinggi. Ketika para ekonom mempelajari data
tentang transisi individu antara bekerja dan menganggur, mereka menemukan bahwa
kelompok dengan pengangguran tinggi cenderung mempunyai tingkat pemutusan
hubungankerja yang tinggi. Mereka menemukan sedikit variasi diantara kelompok
tingkat perolehan kerja.
Perolehan ini
membantu menjelaskan tingkat pengangguran yang lebih tinggi bagi para pekerja
yang lebih muda. Para pekerja yang lebih
muda memasuki pasar tenaga kerja, dan mereka seringkali tidak merasa pasti
dengan rencana karirnya. Barangkali yang terbaik adalah mereka mencoba berbagai
jenis pekerjaan sebelum membuat komitmen jangka panjang pada pekerjaan
tertentu.
3. Tren Pengangguran
·
Demografis
Satu
penjelasan menekankan perubahan komposisi angkatan kerja AS. Setelah Perang
Dunia II, tingkat kelahiran meningkat secara dramatis : jumlah kelahiran
melonjak dari 2,9 juta pada tahun 1945 menjadi 4,3 juta pada tahun 1957,
sebelum turn kembali menjadi 3,1 juta pada tahun 1973. Kemaikan tingkat
kelahiran pada tahun 1950-an ini menyebabkan naiknya jumlah para pekerja muda
pada tahun 1970-an. Namun demikian, para pekerja muda memiliki tingkat
pengangguran yang lebih tinggi, sehingga ketika generasi baby-boom memasuki angkatan kerja, mereka meningkatkan tingkat
pengangguran rata-rata. Lalu ketika usia para pekerja baby-boom ini bertambah, usia rata-rata dari angkatan kerja
meningkat, yang memperkecil tingkat pengangguran rata-rata pada tahun 1990-an.
·
Pergeseran
Sektoral
Penjelesan
kedua didasarkan pada perubahan-perubahan dalam pergeseran sektoral. Semakin
besar jumlah realokasi sektoral, semakin besar pula tingkat pemutusan hubungan
kerja dan semakin tinggi tingkat pengangguran friksional. Satu sumber
pergeseran sektoral selama tahun 1970-an dan awal tahun 1980-an adalah
melonjaknya harga minyak yang disebabkan oleh OPEC, yaitu organisasi
negara-negara penghasil minyak. Perubahan besar dalam harga minyak ini menuntut
realokasi tenaga kerja dari sektor padat energi yang lebih besar ke sektor
padat energi yang lebih kecil.
·
Produktivitas
Penjelasan
ketiga tentang tren pengangguran menekankan hubungan antara pengangguran dan
produktivitas. Tahun 1970-an mengalami kemunduran pertumbuhan produktivitas,
dan tahun 1990-an mengalami kenaikan pertumbuhan produktivitas. Perubahan
produktivitas ini berkaitan dengan perubahan tingkat pengangguran. Mungkin
lambatnya produktivitas selama tahun 1970-an meningkatkan tingkat pengangguran
alamiah dan meningkatnya produktivitas selama pertumbuhan tahun 1990 menekan
tingkat pengangguran alamiah.
4. Transisi Masuk dan
Keluar dari Angkatan Kerja
Sekitar sepertiga
dari pengangguran adalah pekerja yang baru saja masuk ke dalam angkatan kerja.
Sebagian dari mereka adalah para pekerja muda yang masih mencari pekerjaan
pertama mereka; sementara sebagian lainnya telah bekerja sebelumnya, tetapi
untuk sementara waktu keluar. Selain itu, tidak semua pengangguran berakhir
dengan memperoleh kerja : hampir separuh dari seluruh masa pengangguran
berakhir dengan penarikan para pengangguran dari pasar kerja.
Individu-individu
yang memasuki dan meninggalkan angkatan kerja membuat statistik pengangguran
lebih sulit diinterprestasikan. Di satu sisi, sebagian individu yang merasa
diri mereka menganggur tidak serius mencari pekerjaan dan lebih tepat
dianggap keluar dari angkatan kerja.
“Pengangguran” ini tidak menunjukkan masalh sosial. Di sisi lain, sebagian
individu mungkin menginginkan pekerjaan, tetapi setelah mencarinya dan belum
juga berhasil, mereka menyerah. Para pekerja yang putus asa (discouraged
workers) ini dianggap keluar dari angkatan kerja dan tidak ditampilkan dalam
data statistik pengangguran. Meskipun pengangguran mereka tidak dapat diukur,
hal ini tetap menjadi masalh sosial.
Karena hal ini dan
isu lainnya yang menyulitkan interprestasi dari data pengangguran, biro tenaga
kerja AS memperhitungkan beberapa ukuran tenaga kerja yang kurang temanfaatkan
(underutilization).
Pengalaman pada pasar tenaga kerja eropa.
Meningkatnya Pengangguran di Eropa .
Pada
prancis dan jerman ,perubahannya terlihat jelas: rata rata pengangguran
berkisar antara 2% di tahun 1960 an dan berubah menjadi 10% pada beberapa tahun
terakhir ini.
Apakah
yang menyebabkan meningkatnya pengangguran di eropa? Banyak ekonom percaya bahwa
masalah itu berasal dari interaksi kebijakan janka panjang (Long-Standing
Policy) dan guncangan terbaru (Recent shock). Kebijakan janka panjang adalah
besarnya tunjangan menganggur yang dinikmati para pekerja tidak terlatih
dbandingkan para pekerja terlatih.
Selain
itu tidak di ragukan lagi bahwa permintaan terhadap para pekerja tidak terlatih
relatif turun dibandingkan permintaan terhadap tenaga kerja terlatih. Perubahan
permntahan in kemungkinan terkait dengan perubahan teknologi :
komputer,misalnya,meningkatkanpermintahan terhadap para pekerja yang mampu
menggunakannya dan mengurangi permintaan terhadap para pekerja dan tidak bisa
memakainya.Namun di eropa,program masyarakat sejahtera memberikan alternatif
bagi para pekerja tidak terlatih untuk bekerja dengan upah rendah.Ketika upah
para pekerja tidak tertalatih turun,semakin besar para pekerja memandang
program tunjangan sebagai pilihan terbaik mereka.Akibatnya adalah peningkatan
pengangguran.
Variasi Pengagguran di Eropa
Eropa
bukan merupakan pasar tenaga kerja tunggal ,tapi lebh merupakan kumpulan pasar
tenaga kerja nasional, tidak hanya terpisah oleh batas batas negara,namun juga
oleh perbedaan budaya dan bahasa.
Fakta
penting pertama adalah cukup besarnya variasi tingkat pengangguran antara satu
negara dengan negara lainnya.
Fakta
penting kedua adalah bahwa banyaknya variasi pada tingkat pengangguran di
sebabkan oleh pengangguran jangka panjang.Tingkat pengangguran dapat di bagi
menjadi 2 bagian persentase angkatan kerja yang mengaggur kurang dari setahun
dan prsentase ankatan kerja yang menanggur lebih dari setahun.Tinkat
pengangguran jangka panjang menunjukan variasi antar negara yang lebih besar
daripada tingkat pengangguran jangka pendek.
Tinkat
pengangguran nasional berkolerasi dengan variasi kebijakan pasar tenaga
kerja.Tingkat pengangguran lebih tinggi pada negara dengan asuransi
pengangguran yang lebih besar.
Meskipun pengeluaran pemerintah untuk asuransi pengangguran akan
meningkatkan jumlah pengangguran,pengualaran untuk kebijakan pasar tenaga kerja
“aktif” akan menurunkanya.Kebijakan pasar tenaga kerja aktif ini mencakup
pelatiha kerja ,bimbingan dalam pencarian kerja,dan subsidi untuk tenaga kerja.
Tingkat
pengangguran nasional berkorelasi positif dengan persentase angkatan kerja yang
gajinya di tentukan oleh tawar menawar kolektif dengan serikat pekerja.Namun
demikian,dampak negatif dari serikat pekerja terhadap tingkat pengangguran akan
kecl di pekarja,kemungkinan karena koordinasi dapat mengurangi tekanan pada
kenaikan upah.
Comments
Post a Comment