Pengangguran


Kehilangan Pekerjaan, Porelahan Pekerjaan  dan Tingkat Pengangguran Alamiah
Pengangguran masih menjadi masalah makro ekonomi yang sangat berat. Apa yang menjadi penyebab terjadinya pengangguran? Mengapa pengangguran selalu terjadi?
Pengangguran atau Tuna Karya
Adalah istilah untuk orang yang berusia angkatan kerja dari usia 17-25 tahun yang tidak bekerja sama sekali, sedang mencari kerja, bekerja kurang dari dua hari selama seminggu, atau seseorang yang sedang berusaha mendapatkan pekerjaan yang layak. Pengangguran juga mempengaruhi manusia secara langsung karena mengakibatkan penurunan standar kehidupan, tekanan psikologis terhadap yang mengalami kehilangan pekerjaan yang disebabkan  karena jumlah angkatan kerja atau para kerja tidak sebanding dengan jumlah lapangan kerja yang ada yang mampu menyerapnya.
Kehilangan Pekerjaan
Dapat menjadi peristiwa ekonomi paling sulit dalam hidup seseorang. Kebanyakan orang mengandalkan mata pencaharian mereka untuk mempertahankan standar hidup. Mereka tidak hanya memperoleh penghasilan dari pekerjaan mereka, tetapi juga semacam pencapaian pribadi. Kehilangan pekerjaan berarti penurunan standar hidup pada masa kini, kekhawatiran pada masa depan, dan kehilangan harga diri. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika para politisi banyak berbicara tentang bagaimana kebijakan yang mereka usulkan akan membantu dalam menciptakan lapangan kerja pada kampanye mereka.
Pengangguran Karena Memilih Pekerjaan (Search Unemployment)
                             Adanya pengangguran karena memilih pekerjaan menunjukkan bahwa perbedaan antara pengangguran suka rela dengan pengangguran terpaksa tidaklah sejelas yang dirumuskan semula. Dalam kenyataannya, para pekerja mempunyai preferensi serta kemampuan yang berbeda, dan pekerjaan memiliki karakteristik yang berbeda. Sementara itu, arus informasi tentang calon karyawan dan lowongan kerja tidak sempurna, serta mobilitas geografis pekerja tidak instan. Untuk semua alasan ini, mencari pekerjaan yang tepat membutuhkan waktu serta usha dan ini cenderung mengurangi tingkat prolehan kerja. Tentu saja, karena pekerjaan yang berbeda membutuhkan keahlian yang berbeda dan memberikan upah juga yang berbeda, maka para pengangguran mungkin tidak menerima pekerjaan yang pertama kali ditawarkan.  
            Apa sebenarnya yang bersifat “alamiah” dari tingkat pengangguran alamiah
                               Friedman dan Phelps menggunakan kata sifat untuk menggambarkan tingkat  pengangguran alamiah yang dipandang sebagai tingkat pengangguran yang mempengaruhi gravitasi perekonomian dalam jangka panjang, dengan adanya ketidaksempurnaan pasar tenaga kerja yang menyulitkan pekerjaan dari proses perolehan pekerjaan.
                        Pengangguran Alamiah ini bersifat “alamiah” bukan berarti bersifat baik, melainkan “alamiah” karena tidak tersentuh oleh kekuatan pasar yang dipegang oleh serikat pekerja atau tingkat pengangguran, tetapi hanya akan mengarah pada inflasi yang lebih lagi.
       Sebab-sebab alamiah
                        Terjadi adanya pengangguran struktural. Dengan adanya pertumbuhan, maka kombinasi input yang dibutuhkan akan berubah sesuai dengan perubahan permintaan barang jadi. Perubahan ini memerlukan penyesuaian ekonomi yang tepat. Perubahan yang mengikuti pertumbuhan ekonomi menggeser struktur permintaan tenaga kerja.
                        Sebagai contoh, anggaplah bahwa suatu serikat pekerja yang baru dibentuk menggunakan kekuatan pasar untuk menaikkan upah riil bagi beberapa pekerja diatas tingkat keseimbangan. Hasilnya adalah penawaran kerja yang jumlahnya berlebih sehingga tingkat pengangguran  alamiah lebih tinggi. Adapun contoh lain yaitu permintaan tenaga kerja dengan keterampilan tertentu meningkat, seperti rekayasa elektronik dan pemrograman komputer, dan turun untuk tenaga kerja dengan keterampilan lain seperti stenografi dan pembukuan.
            Persamaan dasar yang membangun model dinamika angkatan kerja yang menunjukkan hal-hal dan faktor-faktor penentu tingkat pengangguran alamiah. Notasi L menunjukkan angkatan kerja. E jumlah orang yang bekerja, dan U jumlah pengangguran. Karena setiap orang dalam usia bekerja bervariasi antara bekerja atau menganggur, maka angkatan kerja adalah jumlah orang yang bekerja dan menganggur.
L = E + Uo
Dalam notasi ini, tingkat pengangguran adalah U/L
Dari persamaan sebelumnya, E = L – U, yaitu jumlah orang yang bekerja sama dengan angkatan kerja dikurangi jumlah pengangguran. Jika kita mensubsitusi (L-U) untuk E dalam kondisi mapan, kitaa peroleh :
f U = s (L-U)
Untuk mendapatkan tingkat pengangguran, maka kedua sisi persamaan dibagi L untuk mendapatkan
F U/L = s (I-U/L)
Mencari U/L :
U/L = s/ (s+f)
Persamaan ini juga dapat ditulis dengan
U/L = 1/ (1+f/s)
            Model tingkatan pengangguran alamiah memiliki implikasi yang jelas tetapi penting bagi kebijakan  publik. Semua kebijakan yang bertujuan menurunkan tingkat pengangguran alamiah akan menurunkan tingkat pemutusan kerja atau meningkatkan tingkat perolehan pekerjaan. Demikian pula, semua kebijakan yang mempengaruhi tingkat pemutusan kerja atau perolehan pekerjaan akan mengubah tingkat pengangguran alamiah. Karena memakan waktu  bagi para pekerja untuk mencari pekerjaan yang sesuai dengan keahlian dan selera individu mereka, maka timbulah pengangguran friksional (Frictional Unemployment). Berbagai kebijakan pemerintahan, seperti asuransi pengangguran mengubah jumlah pengangguran friksional.

Pengangguran Friksional
            Pengangguran Friksional adalah pengangguran yang sifatnya sementara dan terjadi karena adanya kesenjangan antara pencari kerja dengan lowongan kerja. Kesenjangan ini berupa kesenjangan  waktu, informasi dan kondisi geografis / jarak antara pelamar kerja dengan pembuka lamaran pekerjaan. Para penganggur ini tidak ada pekerjaan bukan karena tidak dapat memperoleh kerja , tetapi karena sedang mencari pekerjaan lain yang lebih baik. Mereka yang masuk dalam kategori pengangguran sementara umumnya rela menganggur (voluntary unemployment) untuk mendapat pekerjaan.
            Pengangguran friksional umumnya ditimbulkan oleh perubahan permintaan tenaga kerja antara perusahaan-perusahaan yang berbeda. Misalnya, jika konsumen lebih menyukai komputer Acer daripada Dell, jumlah pekerja Acer meningkat, dan Dell melakukan PHK. Mantan karyawan Dell sekarang harus mencari pekerjaan baru, dan Acer harus memutuskan pekerja-pekerja mana yang akan direkrut untuk mengisi posisi yang kini tersedia. Akibat dari transisi ini adalah pengangguran temporer.

            Begitu juga, karena setiap wilayah dalam satu negara memproduksi barang yang berbeda, maka ketika posisi baru terbuka disuatu wilayah, wilayah-wilayah lain kemungkinan akan mengalami pengangguran. Pertimbangkan, misalnya apa yang terjadi jika harga minyak dunia jatuh. Produsen-produsen minyak dunia di Texas bereaksi terhadap penurunan harga teersebut dengan mengurangi produksi dan memotong lapangan pekerjaan. Pada saat yang sama, penurunan harga bensin merangsang penjualan mobil, sehingga produsen-produsen mobil di Michigan menaikkan produksi dan menambah pekerja. Perubahan komposisi permintaan antar industri atau wilayah dinamakan dengan pergeseran sektoral (sectoral shift). Karena pekerja memerlukan waktu untuk menemukan pekerjaan di sektor-sektor yang baru, maka pergeseran sektoral menyebabkan pengangguran temporer.

 Cara mengatasi pengangguran friksional :

1.      Memberikan informasi tentang lowongan kerja secara cepat dan tepat melalui media cetak dan media elektronik
2.      Mengadakan bursa kerja
3.      Mendirikan institusi pencarian kerja
4.      Menggalakkan pengembangan sektor informal, seperti home industri
5.      Pembukaan proyek-proyek umum oleh pemerintah, seperti pembangunan jembatan, jalan raya, PLTU, PLTA, dll.
Pengangguran Friksional Tidak Dapat Dihindari
 
            Apabila dalam suatu periode tertentu perekonomian terus menerus mengalami perkembangan yang pesat, jumlah dan tingkat pengangguran akan menjadi semakin rendah. Pada akhirnya perekonomian dapat mencapai tingkat penggunaan tenaga kerja penuh (full employment), yaitu apabila pengangguran tidak melebhi 4%. Pengangguran ini dinamakan pengangguran friksional (frictional unemployment). Segolongan ahli ekonomi menggunakan istilah pengangguran normal atau pengangguran mencari (search unemployment).


Kekakuan Upah-Rill dan Pengangguran Struktural
Alasan kedua adanya penggangguran adalah kekakuan upah (wage rigidity) gagalnya upah melakukan penyesuaian sampai  penawaran tenaga kerja sama dengan permintaan.  Pengangguran yang disebabkan oleh kekakuan upah dan penjatahan pekerjaan disebut pengangguran struktural (structural unemployment). Para pekerja tidak dipekerjakn bukan karena mereka aktif mencari pekerjaan yang paling cocok dengan keahlian mereka, tetapi karena ada ketidak cocokan mendasar antara jumlah pekerjaan yang menginginkan pekerjaan dan jumla pekerjaan yang  tersedia.
Undang-undang upah minimum
Ketika pemerintah mempertahankan upah agar tidak mecapai tingkat ekuilibrium , hal itu dapat menimbulkan kekakuan upah. Undang-undang upah-minimum menetapkan tingkat upah minimal ang harus di bayar perusahaan pada karyanya. Sejak dikluarkannya undang-undang standar kerja yang adil tahun 1938(fair labor standards act of 1938), pemerintah federal AS memaksakan upah- minumum yang biasanya berada diantara 30 sampai 50 persen dari upah rata-rata dalam industri manufaktur.
Para ekonom percaya bahwa upah minimum memiliki dampak terbesar terhadap pengangguran usia muda. Upah ekuilibrium  para pekerja usia muda cenderung rendah karena dua alasan. Pertama, karena para pekerja usia muda termasuk anggota angkatan kerja yang kurang terdidik dan kurang berpengalaman , mereka cenderung memiliki produktivitas marjinal  yang rendah. Kedua, para pemuda seringkali mengambil sebagian ‘’kompensasi’’ mereka dalam bentuk on-the-job training ketimbang bayaran langsung. Magang adalah contoh pelatihan klasik yang diberikan sebagai pengganti upah. Untuk kedua alasan ini , upah yang menyeimbangkan  penawaran pekerja usia muda dengan permintaannya rendah .

Serikat Pekerja dan Posisi Tawar-Menawar Kolektif
Penyebab dari kekakuan upah yang kedua adalah  kekuatan monopoli serikat pekerja. Di Amerika Serikat , hanya 28 persen dari pekerja yang upahnya ditentukan oleh tawar-menawar. Di sebagian besar negara Eropa, serikat pekerja memainkan peranan yang lebih besar. Upah para pekerja yang tergabung dalam serikat pekerja tidak ditentukan oleh ekuilibrium penawaran dan permintaan, tetapi  oleh posisi tawar-menawar  kolektif antara pimpinan serikat  pekerja dan manajemen  perusahaan . sering kali kesepakatan akhir meningkatkan upah  di atas tingkat ekuilibrium dan memungkinkan perusahaan untuk memutuskan berapa banyak pekerja yang perlu diterima. Hasilnya adalah penurunan jumlah pekerja yang dipekerjakan, tingkat perolehan kerja yang lebih rendah , dan kenaikan pengangguran struktural.

Pengangguran yang disebabkan oleh serikat pekerja dan ancaman pembentukan serikat pekerja (unionization) merupakan sebuah contoh konflik antara kelompok kerja yang berbeda orang dalam (insiders) daan orang luar (outsiders). Kedua kelompok ini cenderung memiliki kepentingan yang bertentangan. Dampak dari setiap proses tawar-menawar terhadap upah dan kesempatan kerja sangat tergantung pada pengaruh relatif dari masing-masing kelompok. Konflik antara orang dalam dan orang luar dipecahkan secara berbeda diberbagai negara. Di beberapa negara,  seperti di Amerika Serikat, proses tawar-menawar upah terjadi pada tingkat perusahaan atau pabrik. Di negara-negara lain, seperti Swedia, proses tawar-menawar upah terjadi pada tingkat nasional dengan pemerintah yang sering memainkan peran penting.

Upah Efisiensi
   1.      Teori upah-efisiensi (efficiency-wage) mengajukan penyebab ketiga dari kekakuan upah selain undang-undang upah minimum dan pembentukan serikat pekerja. Teori ini menyatakan bahwa upah yang tinggi membuat para pekerja lebih produktif.  Pengaruh upah terhadap efisien pekerja dapat menjelaskan kegagalan perusahaan untuk memangkas upah meskipun terjadi kelebihan penawaran tenaga kerja.
    2.      Teori upah-efisiensi yang kedua, yang lebih relevan bagi negara-negara maju, menyatakan bahwa upah yang tinggi menurunkan perputaran tenaga kerja.  Para pekerja keluar dari pekerjaannya karena berbagai alasan  untuk menerima posisi yang lebih baik diperusahaan lain, mengubah karier, atau pindah ke wilayah lain.
   3.      Teori upah-efisiensi ketiga menyatakan bahwa kualitas rata-rata dari tenaga kerja perusahaan tergantung pada upah yang dibayar pada karyawannya. Jika perusahaan mengurangi upahnya, maka pekerja terbaik bisa mengambil pekerjaan ditempat lain, meninggalkan perusahaan dengan para pekerja tidak terdidik yang memiliki lebih  sedikit alternatif.
    4.      Teori upah-efisiensi keempat menyatakan bahwa upah yang tinggi  meningkatkan upaya pekerja. Teori ini menegaskan bahwa perusahaan tidak dapat memantau dengan sempurna upaya para pekerja, dan para pekerja harus memutuskan sendiri sejauh mana mereka akan bekerja keras.
Meskipun keempat teori upah-efisiensi  ini secara rinci berbeda, namun teori-teori tersebut menyuarakan topik yang sama: karena perusahaan beroperasi lebih efisien jika memayar pekerjaan dengan upah yang tinggi, maka perusahaan dapat menganggap bahwa mempertahankan upah di atas tingkat yang menyeimbangkan penawaran dan permintaan adalah menguntungkan . Hasil dari upah yang lebih tinggi daripada upah ekuilibrium ini adalah tingkat perolehan kerja yang lebih rendah dan pengangguran yang lebih besar.

Pengalaman pada Pasar Tenaga Kerja AS
Dimulai dengan menunjukkan bahwa tingkat pengangguran komdisi-mapan perekonomian bergantung pada tingkat pemutusan hubungan kerja dan perolehan kerja. Lalu membahas dua alasan mengapa perolehan kerja tidak bersifat instan : proses pencarian kerja (yang menyebabkan pengangguran friksional) dan kekakuan upah (yang menyebabkan pengangguran struktural). Kekakuan upah, pada gilirannya muncul dari undang-undang upah minimum, pembentukan serikat kerja, dan upah efisiensi

    1.      Durasi Pengangguran

Data yang ada menunjukkan bahwa masa menganggur adalah pendek, tetapi sebagian besar waktu menganggur itu bisa dikaitkan dengan pengangguran jangka-panjang. Berdasarkan data pada tahun 1974, ketika tingkat tingkat pengangguran adalah 5,6 persen. Pada tahun itu, 60 persen dari masa menganggur berakhir dalam waktu satu bulan, tetapi 69 persen dari minggu-minggu menganggur berlangsung selama dua bulan atau lebih.
Bukti tentang durasi pengangguran ini memiliki implikasi penting terhadap kebijakan publik. Jika tujuannya adalah memperkecil tingkat pengangguran alamiah, maka kebijakan harus ditujukan pada pengangguran jangka-panjang, karena mereka menunjukkan jumlah pengangguran yang besar.

    2.      Variasi Tingkat Pengangguran di Antara Kelompok-kelompok Demografis

Tingkat pengangguran sangat bervariasi diantara kelompok-kelompok yang berbeda dalam populasi. Untuk menjelaskan perbedaan ini, ingatlah model tingkat pengangguran alamiah. Model itu menunjukkan dua penyebab kemungkinan timbulnya tingkat pengangguran yang tinggi : tingkat perolehan kerja yang rendah dan tingkat pemutusan hubungan kerja yang tinggi. Ketika para ekonom mempelajari data tentang transisi individu antara bekerja dan menganggur, mereka menemukan bahwa kelompok dengan pengangguran tinggi cenderung mempunyai tingkat pemutusan hubungankerja yang tinggi. Mereka menemukan sedikit variasi diantara kelompok tingkat perolehan kerja.
Perolehan ini membantu menjelaskan tingkat pengangguran yang lebih tinggi bagi para pekerja yang  lebih muda. Para pekerja yang lebih muda memasuki pasar tenaga kerja, dan mereka seringkali tidak merasa pasti dengan rencana karirnya. Barangkali yang terbaik adalah mereka mencoba berbagai jenis pekerjaan sebelum membuat komitmen jangka panjang pada pekerjaan tertentu.

    3.      Tren Pengangguran

·         Demografis

Satu penjelasan menekankan perubahan komposisi angkatan kerja AS. Setelah Perang Dunia II, tingkat kelahiran meningkat secara dramatis : jumlah kelahiran melonjak dari 2,9 juta pada tahun 1945 menjadi 4,3 juta pada tahun 1957, sebelum turn kembali menjadi 3,1 juta pada tahun 1973. Kemaikan tingkat kelahiran pada tahun 1950-an ini menyebabkan naiknya jumlah para pekerja muda pada tahun 1970-an. Namun demikian, para pekerja muda memiliki tingkat pengangguran yang lebih tinggi, sehingga ketika generasi baby-boom memasuki angkatan kerja, mereka meningkatkan tingkat pengangguran rata-rata. Lalu ketika usia para pekerja baby-boom ini bertambah, usia rata-rata dari angkatan kerja meningkat, yang memperkecil tingkat pengangguran rata-rata pada tahun 1990-an.
·         Pergeseran Sektoral

Penjelesan kedua didasarkan pada perubahan-perubahan dalam pergeseran sektoral. Semakin besar jumlah realokasi sektoral, semakin besar pula tingkat pemutusan hubungan kerja dan semakin tinggi tingkat pengangguran friksional. Satu sumber pergeseran sektoral selama tahun 1970-an dan awal tahun 1980-an adalah melonjaknya harga minyak yang disebabkan oleh OPEC, yaitu organisasi negara-negara penghasil minyak. Perubahan besar dalam harga minyak ini menuntut realokasi tenaga kerja dari sektor padat energi yang lebih besar ke sektor padat energi yang lebih kecil.

·         Produktivitas

Penjelasan ketiga tentang tren pengangguran menekankan hubungan antara pengangguran dan produktivitas. Tahun 1970-an mengalami kemunduran pertumbuhan produktivitas, dan tahun 1990-an mengalami kenaikan pertumbuhan produktivitas. Perubahan produktivitas ini berkaitan dengan perubahan tingkat pengangguran. Mungkin lambatnya produktivitas selama tahun 1970-an meningkatkan tingkat pengangguran alamiah dan meningkatnya produktivitas selama pertumbuhan tahun 1990 menekan tingkat pengangguran alamiah.

    4.      Transisi Masuk dan Keluar dari Angkatan Kerja

Sekitar sepertiga dari pengangguran adalah pekerja yang baru saja masuk ke dalam angkatan kerja. Sebagian dari mereka adalah para pekerja muda yang masih mencari pekerjaan pertama mereka; sementara sebagian lainnya telah bekerja sebelumnya, tetapi untuk sementara waktu keluar. Selain itu, tidak semua pengangguran berakhir dengan memperoleh kerja : hampir separuh dari seluruh masa pengangguran berakhir dengan penarikan para pengangguran dari pasar kerja.
Individu-individu yang memasuki dan meninggalkan angkatan kerja membuat statistik pengangguran lebih sulit diinterprestasikan. Di satu sisi, sebagian individu yang merasa diri mereka menganggur tidak serius mencari pekerjaan dan lebih tepat dianggap  keluar dari angkatan kerja. “Pengangguran” ini tidak menunjukkan masalh sosial. Di sisi lain, sebagian individu mungkin menginginkan pekerjaan, tetapi setelah mencarinya dan belum juga berhasil, mereka menyerah. Para pekerja yang putus asa (discouraged workers) ini dianggap keluar dari angkatan kerja dan tidak ditampilkan dalam data statistik pengangguran. Meskipun pengangguran mereka tidak dapat diukur, hal ini tetap menjadi masalh sosial.
Karena hal ini dan isu lainnya yang menyulitkan interprestasi dari data pengangguran, biro tenaga kerja AS memperhitungkan beberapa ukuran tenaga kerja yang kurang temanfaatkan (underutilization).

Pengalaman pada pasar tenaga kerja eropa.
      
Meningkatnya Pengangguran di Eropa .
        Pada prancis dan jerman ,perubahannya terlihat jelas: rata rata pengangguran berkisar antara 2% di tahun 1960 an dan berubah menjadi 10% pada beberapa tahun terakhir ini.
        Apakah yang menyebabkan meningkatnya pengangguran di eropa?                  Banyak ekonom percaya bahwa masalah itu berasal dari interaksi kebijakan janka panjang (Long-Standing Policy) dan guncangan terbaru (Recent shock). Kebijakan janka panjang adalah besarnya tunjangan menganggur yang dinikmati para pekerja tidak terlatih dbandingkan para pekerja terlatih.
        Selain itu tidak di ragukan lagi bahwa permintaan terhadap para pekerja tidak terlatih relatif turun dibandingkan permintaan terhadap tenaga kerja terlatih. Perubahan permntahan in kemungkinan terkait dengan perubahan teknologi : komputer,misalnya,meningkatkanpermintahan terhadap para pekerja yang mampu menggunakannya dan mengurangi permintaan terhadap para pekerja dan tidak bisa memakainya.Namun di eropa,program masyarakat sejahtera memberikan alternatif bagi para pekerja tidak terlatih untuk bekerja dengan upah rendah.Ketika upah para pekerja tidak tertalatih turun,semakin besar para pekerja memandang program tunjangan sebagai pilihan terbaik mereka.Akibatnya adalah peningkatan pengangguran.
   
Variasi Pengagguran di Eropa
         Eropa bukan merupakan pasar tenaga kerja tunggal ,tapi lebh merupakan kumpulan pasar tenaga kerja nasional, tidak hanya terpisah oleh batas batas negara,namun juga oleh perbedaan budaya dan bahasa.
          Fakta penting pertama adalah cukup besarnya variasi tingkat pengangguran antara satu negara dengan negara lainnya.
         Fakta penting kedua adalah bahwa banyaknya variasi pada tingkat pengangguran di sebabkan oleh pengangguran jangka panjang.Tingkat pengangguran dapat di bagi menjadi 2 bagian persentase angkatan kerja yang mengaggur kurang dari setahun dan prsentase ankatan kerja yang menanggur lebih dari setahun.Tinkat pengangguran jangka panjang menunjukan variasi antar negara yang lebih besar daripada tingkat pengangguran jangka pendek.
         Tinkat pengangguran nasional berkolerasi dengan variasi kebijakan pasar tenaga kerja.Tingkat pengangguran lebih tinggi pada negara dengan asuransi pengangguran yang lebih besar.
         Meskipun pengeluaran pemerintah untuk asuransi pengangguran akan meningkatkan jumlah pengangguran,pengualaran untuk kebijakan pasar tenaga kerja “aktif” akan menurunkanya.Kebijakan pasar tenaga kerja aktif ini mencakup pelatiha kerja ,bimbingan dalam pencarian kerja,dan subsidi untuk tenaga kerja.
       Tingkat pengangguran nasional berkorelasi positif dengan persentase angkatan kerja yang gajinya di tentukan oleh tawar menawar kolektif dengan serikat pekerja.Namun demikian,dampak negatif dari serikat pekerja terhadap tingkat pengangguran akan kecl di pekarja,kemungkinan karena koordinasi dapat mengurangi tekanan pada kenaikan upah.

Comments